Peristiwa Paling Penting Dalam Penerbangan

Peristiwa Paling Penting Dalam Penerbangan

Peristiwa Paling Penting Dalam Penerbangan – Pemicu jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 pada Sabtu (9/1) memang belum tahu secara pasti.

Tetapi, statistik memperlihatkan, tinggal landas dan landing ialah babak paling riskan dalam sebuah penerbangan.

Mengapa Take Off dan Landing Jadi Peristiwa Paling Penting dalam Penerbangan

Peristiwa Paling Penting Penerbangan disebutkan critical eleven atau sebelas menit paling krisis dalam pesawat.

Baca Juga: Lokasi Paling Menyeramkan di Cimahi

Critical eleven terjadi pada tiga menit sesudah pesawat take off dan delapan menit saat sebelum landing. Ini jadi waktu penting sebab bisa terjadi hal yang tidak diharapkan.

Pada critical eleven, pilot yang bekerja harus berkomunikasi secara intens dengan Air Trafik Controller (ATC) untuk mengatur pesawat sesuai standard operasi yang berlaku.

Dalam hadapi critical eleven, umumnya awak kabin akan memberi instruksi untuk beberapa penumpang seperti mematikan hp, tutup meja, menegakkan sandaran bangku, buka gorden jendela, dan memakai seat belt.

Beberapa aturan ini diberi untuk memberikan dukungan jalannya penyelamatan jika terjadi beberapa hal yang tidak diharapkan dan mendukung keselamatan penerbangan.

Yang mana Lebih Beresiko, saat Pesawat Terlepas Landas atau Landing? Lalu, yang mana paling beresiko, saat pesawat tinggal landas atau landing?

Dikutip USA Today, John Cox, pensiunan pilot maskapal asal Amerika Serikat yang konselor keselamatan penerbangan menjelaskan jika ke-2 nya sama berbahaya.

Peristiwa tinggal landas sedikit lebih beresiko karena pesawat berisi bahan bakar penuh dan mesin ada dalam kemampuan penuh. Oleh karena itu, jika kehilangan kontrol, pilot cuman mempunyai sedikit opsi.

Hal Penting Dalam Penerbangan

Saat itu, peristiwa menjelang landing mempunyai resiko yang lebih rendah. Masalahnya pesawat dapat tentukan pendaratan pada tempat kosong dan pilot masih tetap punyai waktu untuk berencana suatu hal bila ada terjadi kekeliruan.

Saat itu, pensiunan pilot tempur Amerika Serikat, Tom Ferrier, menerangkan di situs Quora jika peristiwa tinggal landas sedikit lebih beresiko dibanding pendaratan.

“Pendaratan biasanya dipandang sedikit lebih beresiko (dan memerlukan pengatasan yang sedikit lebih cermat) dibanding tinggal landas, tetapi tinggal landas dan pendaratan mempunyai rintangan tertentu,” kata Ferrier.

Saat itu, mencuplik situs Bussiness Insider, catatan statistik terkini dari Boeing memperlihatkan jika 49 % kecelakaan pesawat terjadi di saat landing. Sedang, 14 % terjadi di saat pesawat lakukan take off.

Lepas dari itu, peristiwa menjelang landing atau tinggal landas sama berbahaya. Ke-2 nya mempunyai resiko besar dan rintangan tertentu untuk beberapa pilot.

Karena itu, Cheryl Schwartz, pensiunan pramugari dari United Airlines, menjelaskan penting untuk ketahui letak pintu genting ketika ada dalam penerbangan. Saat duduk di pesawat, janganlah lupa untuk hitung sejauh mana jarak ke arah emergensi exit.

Schwartz menjelaskan jika penumpang harus ketahui status brace saat pesawat hadapi keadaan krisis

Bila Anda mempunyai tempat duduk di muka Anda, misalkan, Anda bisa memakainya sebagai penyangga. Bila tidak, tekuk kaki Anda dan pegang ada di belakang lutut,” ucapnya.

Langkah Menangani Telinga Berdesing Saat Naik Pesawat

Telinga berdesing jadi permasalahan yang tersering dirasakan saat naik pesawat. Hingga membuat telinga berdesing saat dalam penerbangan disebutkan dengan barotrauma.

Telinga berdesing saat naik pesawat dikuasai oleh penekanan udara yang ada pada pesawat. Saat pesawat mulai tinggal landas sampai capai ketinggian tertentu, karena itu penekanan udara dalam pesawat jadi lumayan besar, karena ada ketidaksamaan penekanan udara di luar dan dalam pesawat.

Keadaan ini pasti benar-benar mengusik kenyamanan penumpang pesawat. Lalu, bagaimanakah cara menahan telinga berdesing saat naik pesawat?

  1. Kunyah

Anjuran yang ini kemungkinan kerap kamu dengar. Ya, kunyah benar-benar berguna saat telinga berdesing.

Saat kunyah, aliran eustachius automatis tutup dan buka. Lalu, air liur yang ditelan hasil dari kunyahan bisa hilangkan dengung di telinga.

Ketika ada dalam pesawat, kamu bisa kunyah permen karet yang bisa disiapkan saat sebelum memakai transportasi udara ini. Jika tidak mungkin mempersiapkannya, umumnya saat sebelum tinggal landas, pramugari akan tawarkan permen. Ambil seperlunya, permen ini menjadi alternative.

  1. Minum air banyak

Minum air putih benar-benar dianjurkan untuk dimakan sepanjang penerbangan. Kecuali untuk jaga badan masih terhidrasi secara baik, pergerakan menelan saat minum air dipercayai dapat buka sumbatan di aliran tuba yang mengakibatkan telinga berdesing.

Walau kamu tidak dapat bawa air minum saat melalui pengecekan di lapangan terbang, tetapi ada selalu convenient store atau toko yang jual air minum paket di tempat boarding room. Di sejumlah lapangan terbang ada air minum gratis yang dapat digunakan.

  1. Pergerakan menguap

Jika anjuran barusan belum sukses, karena itu cara seterusnya adalah menguap. Pergerakan menguap seluas dan sekuat kemungkinan bisa dilaksanakan. Lakukan pergerakan ini seringkali secara berurut supaya dengung di telinga raib.

Kerap buka mulut lebar-lebar bila berasa telinga berdesing di pesawat.

  1. Tutup hidung dan mulut

Bila belum mendapatkan langkah yang efisien, cara yang ini bisa kamu kerjakan. Tutuplah hidung dan mulut secara bertepatan, lalu tahan sesaat, sesudahnya hembuskan napas lewat hidung perlahan.

Jika sukses, penekanan udara di telinga akan berasa keluar. Penting diingat, cara ini tidak dianjurkan untuk pasien penyakit jantung.

  1. Tidak boleh tidur saat tinggal landas dan landing

Tidur sebagai aktivitas yang dilarang saat pesawat terlepas landing dan landas. Bila dilaksanakan, hal itu mempunyai potensi memunculkan kerusakan serius pada telinga.

Dikutip dari RD, pakar beberapa obat dan makanan asal Inggris, Angel Chalmers, menjelaskan saat pesawat akan landing atau tinggal landas, seharusnya tidak boleh tertidur dan tidak turunkan sandaran tangan.

kekosongan pada tabung Eustachian yang membuat telinga berasa mampet dan kurangi pendengaran,” ucapnya.

Menurut Chalmers, penumpang yang tidur saat tinggal landas atau landing bisa juga alami bermacam permasalahan, seperti pusing, infeksi telinga, kerusakan gendang telinga, sampai kehilangan pendengaran. Itu semua terkait dengan penekanan udara di kabin yang berbeda secara tiba-tiba dan cepat.